KISAH GERHANA


 

 

Dahulu, tatkala bunyi lesung dan kentongan bersahutan, hampir tidak ada orang yang berani berkeliaran. Batharakala, raksasa jahat sedang mencaplok matahari atau bulan. Semua orang takut raksasa itu akan melahap matahari atau bulan hingga tak bersisa. Satu-satunya cara yang diyakini mampu mengusirnya adalah dengan membunyikan tetabuhan, hingga bisa membuat Batharakala terlena, berjoget dan membatalkan niat melahap matahari atau bulan.
Tahun 1983, ketika gerhana matahari total melintasi pulau Jawa, pemerintah melalui propagandanya melarang melihat secara langsung bahkan dengan kacamata gerhana sekalipun, jika tidak ingin menjadi buta permanen. Masyarakat dihimbau untuk melihat siaran langsung di TVRI, satu-satunya siaran televisi yang bisa ditangkap. Begitu menakutkannya gerhana matahari waktu itu hingga hampir tak ada orang yang berani keluar. Hingga kemarin malam, seorang tetangga yang usianya sekitar 65 tahun masih tetap meyakini bahwa melihat langsung meski sekejap bisa berakibat buta. Beliau tetap yakin bebek di rumahnya buta karena berkeliaran saat gerhana matahari total berlangsung kala itu.
Hari ini, 9 Maret 2016, tak ada lagi keyakinan tentang Batharakala yang mencaplok matahari. Dan kini juga tak ada lagi ketakutan akan kutukan menjadi buta ketika menatap langsung matahari yang sedang tertutup bulan. Ilmu pengetahuan telah berhasil menggerus semua keyakinan-keyakinan yang menakutkan itu, menjadi sebuah komoditas wisata menikmati gerhana matahari total. Puluhan ribu wisatawan baik lokal maupun mancanegara menyerbu wilayah-wilayah yang menjadi garis lintasan gerhana matahari total.
Kini peristiwa gerhana matahari telah usai. Esok, lusa atau kapanpun, kisah tentang Batharakala melahap matahari atau bulan saat gerhana terjadi, harus tetap kita ceritakan. Bukan untuk diyakini, tetapi sebagai bagian dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

 

(text: yst)

Share Button