MAHA KARYA CIPTA SENI 2017


 

Rutin setiap tahun, Jurusan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya menggelar acara pementasan yang juga sebagai syarat untuk kelulusan mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk bisa menjadi pemain seni, tetapi harus mampu menghasilkan karya seni dan membuat pementasan. Tahun ini, pagelaran yang diberi tajuk Maha Karya Cipta Seni 2017 digelar tanggal 20-24 Mei 2017. 24 karya music dan 1 karya tari kontemporer harus ditampilkan didepan umum sekaligus dinilai oleh dosen penguji, setelah melalui tiga tahapan penilaian dan asistensi.

Penampilan para penata music dan tari sudah layak disejajarkan dengan seniman-seniman senior. Rendi Setyo dengan karya berjudul Rebelion mampu membawa penonton pada suasana kegalauan, ketegangan dan kekacauan pemberontakan di Madiun, Jhonatan Wisnu dengan karya berjudul Finding berhasil membawa suasana pencarian seseorang yang mempunyai masa lalu suram dalam menemukan Tuhannya, Jatayu Yoga dengan karya berjudul IL Gladiatore membius penonton dengan suasana pertempuran 2 orang gladiator yang awalnya mereka adalah sahabat kemudian dipaksa untuk bertarung, pilihannya adalah hidup atau mati, dan Hikmah Kurniasari dalam karya tari berjudul Psikoneurosis membuat penonton bisa merasakan kekejaman perang. Dan banyak karya-karya lain yang sangat patut untuk diberikan apresiasi, seperti Sonata in G Minor for Solo Viola (Saifi Dwi), Pelog Variation on 3 Movement (I Made Subrata), Divertimento Groso (Fajar Tri), Tegeh (Rendi Suhartono) , dan yang lainnnya.

Dalam sambutannya, sebagai bentuk apresiasi dari Jurusan, Dr. Anik Juwariyah,M.Si selaku Ketua Jurusan Sendratasik akan melindungi karya-karya mahasiwanya dengan mendaftarkannya karya-karya mereka ke Ditjen HAKI, tentunya dengan seijin pemilik karya seni.

Share Button