MENGUNJUNGI JEJAK SEJARAH BUNG KARNO


Dengan menumpang KM Van Riebeeck dan dibawah pengawalan serdadu Belanda, Bung Karno berlayar menuju Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, kota yang menjadi tempat pengasingannya setelah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan pada tanggal 28 Desember 1933. 17 hari setelah dikeluarkannya surat keputusan tersebut, tepatnya tanggal 14 Januari 1934, bersama istrinya Inggit Ganarsih, mertuanya Ibu Amsih dan kedua anak angkatnya yaitu Ratna Juami dan Kartika, Bung Karno menginjakkan kaki di kota Ende. Selama 4 tahun, sembilan bulan dan empat hari, Bung Karno dan keluarganya menempati sebuah rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1950 Bung Karno mengunjungi Ende dan bertemu Haji Abdullah Ambuwaru, pemilik rumah yang ditempati Bung Karno dan keluarga selama masa pengasingan. Kepada Bapak Ambuwaru, beliau meminta rumah tersebut dan menyatakan keinginannya agar rumah bekas tempat tinggalnya itu dijadikan museum. Pada tanggal 16 Mei 1954, Bung Karno sendiri yang meresmikan rumah itu sebagai situs sejarah.

Pada tahun 2009, Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak Boediono berkunjung ke Ende dalam rangka perjalanan menelusuri jejak sejarah. Rencana Renovasi Situs Bung Karno pada tanggal 28 Desember 2010 (77 tahun setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Pengasingan Bung Karno), adalah bentuk tindak lanjut dari kunjungan Bapak Boediono sebelumnya. Akhirnya  renovasi dilakukan di rumah pengasingan Bung Karno dan Taman Pancasila selama bulan Juni 2012 sampai bulan Desember 2012. (YST)

Share Button